Singkawang, kota yang dijuluki “Kota Seribu Kelenteng,” menyimpan kekayaan budaya Tionghoa yang luar biasa, dan salah satu permata arsitektur religinya adalah Vihara Vajra Bhumi. Vihara ini bukan hanya tempat ibadah, melainkan sebuah manifestasi seni dan spiritualitas yang memadukan tradisi Buddhis Vajrayana (Tibet) dengan gaya arsitektur Tionghoa yang megah. Sebagai salah satu vihara terbesar dan termegah di Kalimantan Barat, Vihara Vajra Bhumi menjadi saksi bisu harmonisasi etnis di kota tersebut. Keberadaan Vihara Vajra Bhumi menunjukkan kuatnya akar budaya Tionghoa yang telah berabad-abad menetap di Singkawang.
Perpaduan Gaya Arsitektur yang Unik
Keunikan arsitektur Vihara Vajra Bhumi terletak pada perpaduan tiga elemen utama: Buddhis Tiongkok klasik, Buddhis Tibet (Vajrayana), dan sentuhan modern. Vihara ini mulai dibangun pada tahun 2005 dan baru selesai sepenuhnya pada tahun 2010, melalui sumbangan dari umat dan donatur lokal maupun internasional.
- Atap Khas Tiongkok: Vihara ini menampilkan atap bertingkat dengan ujung melengkung (dougong) yang dihiasi patung-patung naga, menunjukkan pengaruh kuat arsitektur Tiongkok Selatan. Warna merah, kuning emas, dan hijau giok mendominasi, melambangkan kemakmuran, keberuntungan, dan kedamaian.
- Stupa Tibet: Berbeda dari kelenteng Tiongkok biasa, di beberapa area Vihara terdapat stupa-stupa kecil yang merupakan ciri khas dari tradisi Buddhis Tibet atau Vajrayana. Stupa ini digunakan untuk menyimpan relik suci dan melambangkan pencerahan Buddha.
- Patung Buddha Raksasa: Area utama peribadatan dihiasi dengan patung-patung Buddha berukuran besar, termasuk patung Buddha Amitabha dan Bodhisattva Kwan Im, yang menjadi pusat devosi umat.
Setiap detail, mulai dari ukiran kayu hingga pilar-pilar besar, dikerjakan dengan sangat teliti, mencerminkan dedikasi umat dalam membangun tempat suci ini.
Fungsi Spiritual dan Edukasi
Vihara Vajra Bhumi berfungsi sebagai pusat spiritual bagi umat Buddha, khususnya yang menganut aliran Vajrayana. Di sini, kegiatan keagamaan rutin seperti upacara persembahyangan (puja bakti) dan meditasi dilaksanakan.
- Peringatan Hari Besar: Vihara ini menjadi pusat perayaan hari-hari besar Buddhis Tionghoa, termasuk Hari Raya Imlek dan Perayaan Waisak. Pada Hari Raya Waisak yang biasanya jatuh pada bulan Mei atau Juni, vihara ini dipadati ribuan umat dari berbagai daerah. Koordinator Ritual Vihara, Bhikku Dharmasurya, mengkonfirmasi bahwa pada perayaan besar, kegiatan ritual dimulai sejak pukul 04.00 pagi dengan meditasi fajar.
- Edukasi Multikultural: Selain fungsinya sebagai tempat ibadah, vihara ini terbuka untuk pengunjung dari latar belakang agama apa pun, berfungsi sebagai tempat edukasi budaya dan arsitektur Tionghoa. Pihak pengelola telah menunjuk Petugas Informasi dan Keamanan yang bertugas setiap hari hingga pukul 17.00 WIB untuk memberikan penjelasan mengenai arsitektur dan ajaran Buddha kepada wisatawan.
Keamanan dan Tata Tertib
Mengingat nilai sejarah dan peran pentingnya, Vihara Vajra Bhumi diawasi dengan ketat. Kepolisian Sektor (Polsek) setempat secara rutin berkoordinasi dengan pengurus vihara, terutama untuk pengamanan selama perayaan keagamaan yang melibatkan massa besar. Pengunjung diwajibkan mematuhi tata tertib yang berlaku, termasuk larangan mengambil foto di area utama peribadatan dan berpakaian sopan, sebagai wujud penghormatan terhadap kesucian tempat tersebut. Ketertiban dan keindahan vihara ini menjadikannya salah satu aset budaya yang paling dibanggakan oleh masyarakat Singkawang.