Bagi masyarakat Dayak di Kalimantan, Gawai adalah perayaan terbesar dan paling sakral, melambangkan puncak dari siklus pertanian dan menjadi pengikat kuat ikatan sosial. Upacara Gawai Dayak adalah ritual tahunan yang diselenggarakan sebagai wujud rasa syukur kepada Petara (Tuhan) dan roh-roh leluhur atas hasil panen padi yang melimpah (padi baru). Perayaan ini mencerminkan kekayaan spiritual dan budaya agraris Suku Dayak, yang hidup berdampingan secara harmonis dengan alam dan senantiasa menjunjung tinggi nilai-nilai komunal.
Waktu pelaksanaan Upacara Gawai Dayak bervariasi antar sub-suku, tetapi secara umum diselenggarakan setelah masa panen selesai, yaitu pada akhir musim tanam, biasanya sekitar akhir bulan Mei hingga awal Juni. Persiapan Gawai memakan waktu yang cukup lama, melibatkan seluruh anggota komunitas rumah panjang (betang). Kaum wanita bertanggung jawab menyiapkan makanan dan minuman tradisional, termasuk tuak (minuman fermentasi beras) yang disajikan dalam jumlah besar. Sementara itu, kaum pria mempersiapkan ritual dan dekorasi, termasuk mendirikan ranyai (pohon ritual) dan patung-patung roh.
Inti dari Upacara Gawai Dayak adalah ritual persembahan (miring) dan doa yang dipimpin oleh Belian atau Dukun Adat. Ritual ini bertujuan memohon berkah agar hasil panen di tahun berikutnya lebih baik, serta menjauhkan komunitas dari malapetaka. Perayaan ini selalu berlangsung meriah selama beberapa hari, bahkan dapat mencapai tujuh hari tujuh malam di beberapa komunitas yang masih memegang teguh tradisi. Selama Gawai, diadakan berbagai pertunjukan kesenian, seperti tari-tarian tradisional, seperti Tari Perang dan Tari Enggang, serta permainan rakyat.
Salah satu fungsi terpenting dari Upacara Gawai Dayak adalah memperkuat ikatan sosial dan kekeluargaan. Inilah momen di mana sanak saudara yang merantau akan kembali ke kampung halaman, dan semua orang berkumpul, berbagi makanan, dan menyelesaikan masalah komunitas. Protokol adat yang berlaku selama perayaan diawasi oleh Kepala Adat Kampung dan Panglima yang memastikan setiap tahapan ritual berjalan sesuai pakem yang diwariskan sejak ratusan tahun yang lalu. Panglima juga bertugas menjaga ketertiban umum di sekitar rumah panjang dari gangguan. Tradisi ini merupakan simbol ketahanan budaya Dayak dan merupakan bagian tak terpisahkan dari identitas Kalimantan.