Pontianak, ibu kota Kalimantan Barat, dikenal sebagai salah satu kota dengan harmoni budaya yang kuat, terutama antara etnis Tionghoa dan Melayu. Manifestasi paling spektakuler dari akulturasi ini adalah perayaan Tradisi Cap Go Meh, yang menandai hari ke-15 dan penutupan perayaan Tahun Baru Imlek. Tradisi Cap Go Meh di Pontianak bukan sekadar ritual keagamaan; ia telah bertransformasi menjadi festival tahunan yang meriah, melibatkan seluruh lapisan masyarakat tanpa memandang suku atau agama. Skala perayaan Tradisi Cap Go Meh di Pontianak bahkan diakui sebagai salah satu yang terbesar di Asia Tenggara, menarik ribuan wisatawan setiap tahun.
Makna dan Waktu Pelaksanaan
Cap Go Meh secara harfiah berarti “malam ke-15”. Dalam kalender lunar, perayaan ini jatuh tepat 15 hari setelah Tahun Baru Imlek, yang biasanya terjadi antara akhir Februari hingga awal Maret. Filosofi utamanya adalah ungkapan rasa syukur atas berkat tahun lalu dan harapan agar tahun yang baru membawa kemakmuran dan perlindungan.
Inti dari perayaan ini adalah Pawai Tatung:
- Tatung: Mereka adalah individu yang dirasuki roh dewa atau leluhur dan melakukan atraksi ekstrem, seperti menusuk tubuh dengan benda tajam atau menginjak pedang, tanpa terlihat kesakitan. Atraksi ini diyakini berfungsi untuk mengusir roh jahat dan membersihkan kota.
Pawai Lintas Etnis dan Antusiasme Massa
Pawai Tradisi Cap Go Meh di Pontianak menampilkan kolaborasi budaya yang unik:
- Naga Raksasa: Pawai selalu didominasi oleh arak-arakan naga barongsai raksasa yang panjangnya bisa mencapai 30 hingga 50 meter. Naga ini dimainkan oleh puluhan orang dan diarak melalui rute utama kota.
- Partisipasi Melayu: Meskipun berakar dari budaya Tionghoa, banyak elemen Melayu dan Dayak yang ikut berpartisipasi. Musik pengiring pawai seringkali memasukkan instrumen tradisional Melayu di samping genderang Tionghoa. Pihak Keraton Kadriyah Pontianak sering mengirimkan perwakilan untuk menyaksikan dan memberikan restu pada pawai, menandai pengakuan resmi atas status perayaan ini sebagai agenda budaya kota.
Untuk mengamankan rute pawai yang bisa mencapai jarak 5 kilometer melintasi pusat kota, Kepolisian Resor Kota Pontianak mengerahkan total 600 personel gabungan dari berbagai unit, termasuk Brimob dan Satuan Lalu Lintas, yang bertugas sejak pukul 10.00 WIB hingga pawai selesai pada sore hari.
Wisata Kuliner dan Dampak Ekonomi
Perayaan ini juga menjadi dorongan besar bagi ekonomi lokal. Selama tiga hari menjelang puncak perayaan, omset pedagang kaki lima dan restoran di sepanjang Jalan Gajah Mada dan sekitarnya dapat meningkat hingga 200%. Hidangan khas yang wajib dicicipi selama perayaan adalah Lontong Cap Go Meh, yang merupakan simbol akulturasi karena memadukan elemen masakan Tionghoa dengan kuah santan dan bumbu khas Jawa/Melayu.