Istilah “orang gila” telah lama digunakan dalam percakapan sehari-hari. Sayangnya, penggunaan kata ini membawa beban stigma yang berat dan merendahkan. Istilah ini bukan hanya sekadar kata, melainkan cerminan pandangan masyarakat yang keliru terhadap orang dengan gangguan jiwa (ODGJ). Kata ini mengesankan bahwa mereka tidak memiliki akal sehat dan tidak layak diperlakukan dengan hormat.
Penting untuk disadari bahwa penggunaan istilah “orang gila” memiliki dampak psikologis yang mendalam. Kata ini dapat menyakiti perasaan, memperkuat rasa malu, dan membuat ODGJ semakin terisolasi. Mereka merasa tidak dianggap sebagai manusia seutuhnya, melainkan sebagai objek ejekan. Hal ini menghambat proses pemulihan dan menghalangi mereka untuk mencari bantuan.
Sebagai gantinya, kita harus mulai menggunakan istilah yang lebih humanis dan tepat, seperti ODGJ. Mengapa? Karena istilah ini mengakui bahwa mereka adalah individu terlebih dahulu, dan gangguan jiwa hanyalah bagian dari kondisi yang mereka alami. Ini adalah sebuah pengakuan terhadap martabat dan kemanusiaan mereka yang tidak boleh direnggut.
Perubahan bahasa adalah langkah awal untuk mengubah cara pandang. Ketika kita berhenti menggunakan istilah “orang gila“, kita secara tidak langsung menunjukkan rasa empati dan kepedulian. Kita mengakui bahwa gangguan jiwa adalah kondisi medis yang membutuhkan pengobatan, bukan aib yang harus disembunyikan.
Edukasi tentang kesehatan mental adalah kunci untuk menghapus stigma. Dengan memahami bahwa gangguan jiwa bisa dialami oleh siapa saja, kita akan lebih mudah berempati. Pemahaman ini membantu kita melihat ODGJ bukan sebagai “orang gila” yang menakutkan, melainkan sebagai individu yang sedang berjuang dan membutuhkan dukungan.
Media massa memiliki peran penting dalam menyebarkan penggunaan istilah yang benar. Dengan menyajikan berita dan artikel yang menggunakan istilah humanis, media dapat menjadi agen perubahan. Mereka dapat membantu masyarakat untuk berhenti menggunakan label yang merendahkan, dan menggantinya dengan bahasa yang lebih menghargai.
Setiap institusi, mulai dari sekolah hingga tempat kerja, juga harus aktif dalam mengkampanyekan bahasa yang inklusif. Pelatihan sensitivitas terhadap kesehatan mental dapat membantu setiap individu untuk lebih bijak dalam bertutur kata. Hal ini menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman bagi ODGJ dan semua orang.