Sejarah Kalimantan Barat adalah kisah panjang yang melibatkan peradaban kuno hingga terbentuknya kesultanan Islam. Jauh sebelum era modern, tanah Borneo Barat ini telah dihuni oleh berbagai suku Dayak yang membentuk kerajaan-kerajaan kecil. Mereka hidup selaras dengan alam, menjaga tradisi leluhur secara turun-temurun, dan mengembangkan kearifan lokal.
Pada mulanya, wilayah ini didominasi oleh kerajaan-kerajaan Dayak yang tersebar di pedalaman dan sepanjang sungai. Kehidupan mereka sangat bergantung pada sungai sebagai jalur transportasi dan sumber daya. Mereka memiliki sistem pemerintahan adat dan kepercayaan animisme yang kuat, membentuk masyarakat yang mandiri dan adaptif.
Interaksi dengan dunia luar mulai terjadi seiring kedatangan pedagang dari berbagai bangsa. Pedagang Tiongkok, India, dan kemudian Melayu, mulai berlabuh di pesisir. Ini membawa perubahan signifikan, tidak hanya dalam perdagangan tetapi juga dalam penyebaran agama dan budaya baru yang perlahan masuk ke wilayah tersebut.
Pada abad ke-15 hingga ke-17, pengaruh Islam mulai merambah pesisir Kalimantan Barat. Para ulama dan pedagang Muslim memperkenalkan ajaran Islam, yang kemudian diterima oleh beberapa pemimpin lokal. Proses Islamisasi ini seringkali berjalan damai, beriringan dengan asimilasi budaya.
Titik balik penting dalam Sejarah Kalimantan Barat adalah berdirinya Kesultanan Pontianak. Kesultanan ini didirikan oleh Syarif Abdurrahman Alkadrie pada tahun 1771. Beliau adalah seorang ulama dan bangsawan Arab yang membuka permukiman baru di pertemuan Sungai Kapuas dan Sungai Landak.
Pendirian Kesultanan Pontianak menandai berdirinya pusat kekuasaan baru yang berorientasi maritim dan perdagangan. Lokasinya yang strategis menjadikannya pelabuhan penting yang menghubungkan pedalaman dengan jalur perdagangan internasional. Ini menarik lebih banyak pedagang dan pendatang.
Pada masa ini, berbagai komoditas seperti lada, emas, dan intan menjadi primadona perdagangan. Kesultanan Pontianak menjalin hubungan dagang dengan berbagai kerajaan lain di Nusantara, bahkan hingga ke Tiongkok dan Eropa. Ekonominya tumbuh pesat berkat aktivitas ini.
Sejarah Kalimantan Barat juga diwarnai oleh interaksi dengan kekuatan kolonial. Belanda dan Inggris mulai menunjukkan minat pada wilayah ini karena kekayaan sumber daya alamnya. Ini memicu berbagai perjanjian dan konflik yang membentuk peta politik Kalimantan Barat selanjutnya.