Budaya

Robo-Robo: Tradisi Tolak Bala Masyarakat Melayu Pontianak

Tradisi tolak bala yang dikenal sebagai Robo-Robo merupakan salah satu perayaan budaya yang sangat penting bagi masyarakat Melayu di Pontianak, Kalimantan Barat. Upacara ini diadakan setiap tahun pada hari Rabu terakhir bulan Safar dalam penanggalan Hijriah, sebuah momen yang dipercaya sebagai saat turunnya berbagai macam bencana dan malapetaka. Oleh karena itu, ritual ini bertujuan untuk memohon perlindungan kepada Tuhan agar dijauhkan dari segala musibah. Persiapan untuk Robo-Robo biasanya dimulai beberapa hari sebelumnya, melibatkan seluruh elemen masyarakat, mulai dari tokoh adat, pemuka agama, hingga masyarakat umum. Mereka bekerja sama untuk memastikan seluruh rangkaian acara berjalan lancar dan khidmat.

Puncak perayaan Robo-Robo berpusat di tepian Sungai Kapuas, seringkali di sekitar Istana Kadriah atau di lokasi strategis lainnya yang mudah dijangkau. Pada pagi hari yang telah ditentukan, ribuan warga berkumpul, mengenakan pakaian tradisional Melayu. Acara dimulai dengan pembacaan doa-doa dan ayat-ayat suci Al-Qur’an oleh para ulama, memohon keselamatan dan keberkahan. Setelah itu, dilanjutkan dengan ritual “buang-buang” atau menghanyutkan sesajen ke sungai. Sesajen ini umumnya berupa makanan tradisional dan bunga-bunga yang diletakkan di atas miniatur perahu atau wadah kecil, melambangkan penyerahan diri dan permohonan agar segala keburukan ikut hanyut terbawa arus. Prosesi ini menjadi inti dari tradisi tolak bala ini, menarik perhatian banyak orang, baik wisatawan maupun media.

Selain ritual utama, Robo-Robo juga dimeriahkan dengan berbagai kegiatan kebudayaan lainnya. Ada pawai perahu hias di Sungai Kapuas, pertunjukan seni tradisional seperti tari Jepin dan musik gambus, serta pameran kuliner khas Melayu. Seluruh rangkaian acara ini tidak hanya berfungsi sebagai ritual keagamaan, tetapi juga sebagai ajang silaturahmi dan mempererat tali persaudaraan antarwarga. Pihak kepolisian setempat, seperti Polresta Pontianak, seringkali menurunkan personel untuk mengamankan jalannya acara, memastikan ketertiban dan kelancaran lalu lintas, terutama di area sekitar lokasi perayaan. Dengan adanya pengamanan yang ketat, masyarakat dapat mengikuti tradisi tolak bala ini dengan tenang dan khidmat. Robo-Robo bukan hanya sekadar ritual kuno, melainkan cerminan dari kekayaan budaya Melayu Pontianak dan kearifan lokal dalam menghadapi kehidupan. Tradisi ini terus dilestarikan sebagai warisan leluhur yang berharga.