Berita - Edukasi

Program Konservasi Bekantan (Monyet Belanda) di Hutan Mangrove

Bekantan, atau yang sering dijuluki “Monyet Belanda” karena hidungnya yang panjang dan besar, adalah ikon satwa liar Kalimantan yang populasinya kian terancam. Untuk menyelamatkan spesies unik ini, berbagai inisiatif program konservasi di hutan mangrove Kalimantan terus digalakkan. Program konservasi ini bukan sekadar upaya melindungi hewan, melainkan juga menjaga ekosistem hutan mangrove yang menjadi habitat penting bagi bekantan dan banyak spesies lainnya, sekaligus menyokong keberlangsungan lingkungan pesisir.

Ancaman utama bagi bekantan adalah hilangnya habitat akibat deforestasi dan konversi lahan mangrove menjadi area pertambangan, perkebunan kelapa sawit, atau permukiman. Oleh karena itu, salah satu pilar utama program konservasi adalah perlindungan dan restorasi hutan mangrove. Berbagai lembaga, baik pemerintah maupun non-pemerintah, bekerja sama dengan masyarakat lokal untuk menanam kembali mangrove di area yang rusak. Selain itu, patroli rutin juga dilakukan untuk mencegah penebangan liar dan perburuan. Pada 10 September 2025, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat mengumumkan bahwa sekitar 500 hektar hutan mangrove di sekitar Delta Kapuas telah berhasil direstorasi dalam tiga tahun terakhir, dengan melibatkan lebih dari 200 warga desa setempat dalam kegiatan penanaman. Ini adalah “Metode Efektif” untuk pemulihan ekosistem.

Selain restorasi habitat, program konservasi juga mencakup edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat. Mengingat bekantan adalah hewan yang sensitif terhadap gangguan manusia, penting bagi masyarakat pesisir untuk memahami pentingnya menjaga keberadaan mereka. Kampanye kesadaran sering kali dilakukan di sekolah-sekolah dan desa-desa, menjelaskan peran ekologis bekantan dan dampak negatif dari perburuan atau perusakan habitat. Petugas penyuluh lingkungan dari Dinas Kehutanan setempat secara rutin memberikan ceramah pada setiap hari Rabu di desa-desa sekitar hutan mangrove, seperti yang dicatat pada 12 Juli 2025. Edukasi ini juga mencakup cara hidup berdampingan dengan satwa liar dan melaporkan aktivitas ilegal yang mengancam bekantan.

Pemantauan populasi juga merupakan komponen vital dari program konservasi ini. Para peneliti menggunakan berbagai metode, seperti pengamatan langsung, kamera jebak, dan analisis jejak, untuk memperkirakan jumlah bekantan yang tersisa dan memantau kesehatan populasi. Data ini sangat penting untuk mengevaluasi keberhasilan upaya konservasi dan merancang strategi yang lebih efektif di masa depan. Misalnya, sebuah tim peneliti dari Universitas Tanjungpura pada 25 Juni 2025, menemukan adanya peningkatan kelahiran bekantan di area konservasi yang terawat. Dengan adanya berbagai inisiatif program konservasi yang terintegrasi, diharapkan populasi bekantan dapat pulih dan terus melompat bebas di antara rimbunnya hutan mangrove Kalimantan, menjadi simbol keberhasilan upaya pelestarian alam Indonesia.