Kota Pontianak, ibu kota Kalimantan Barat, memegang peran unik dalam geografi dunia, dikenal sebagai kota yang dibelah tepat oleh garis imajiner bumi. Daya tarik utamanya adalah keberadaan Titik Nol Khatulistiwa, sebuah penanda geografis yang sangat langka dan menjadi ikon utama Wisata Jantung Borneo. Di tugu yang terletak di Jalan Khatulistiwa ini, dua kali dalam setahun (sekitar tanggal 21-23 Maret dan 21-23 September), pengunjung dapat menyaksikan fenomena alam di mana posisi matahari tepat berada di atas kepala, menyebabkan bayangan benda menghilang (kulminasi). Fenomena ini, yang menarik perhatian ribuan turis, merupakan simbol visual sempurna dari posisi geografis Kota Pontianak yang istimewa.
Menjelajahi Kota Pontianak berarti menyelami kekayaan multikultural yang terletak strategis di Wisata Jantung Borneo. Selain tugu khatulistiwa, kota ini menawarkan perpaduan warisan budaya Melayu, Dayak, dan Tionghoa. Keraton Kadriyah dan Masjid Sultan Syarif Abdurrahman, yang didirikan pada tahun 1771, menjadi saksi sejarah berdirinya Kesultanan Pontianak. Sementara itu, kawasan pecinan menyajikan kuliner dan tradisi Tionghoa yang kuat, terutama saat perayaan Imlek. Kehidupan masyarakat di tepian Sungai Kapuas, sungai terpanjang di Indonesia, menambah pesona Wisata Jantung Borneo, di mana pasar apung dan perahu-perahu kecil masih menjadi pemandangan sehari-hari.
Untuk memaksimalkan pengalaman wisatawan di Titik Nol Khatulistiwa, pemerintah daerah secara rutin mengadakan festival tahunan yang bertepatan dengan momen kulminasi matahari. Festival Khatulistiwa pada tahun 2041, misalnya, dijadwalkan berlangsung pada hari Sabtu, 22 Maret, yang menampilkan atraksi budaya dan workshop edukasi. Mengingat lonjakan pengunjung, pengamanan di sekitar Tugu Titik Nol Khatulistiwa diperketat. Kapolsek Pontianak Utara, Kompol Bambang Wibowo, pada pengarahan tanggal 15 Maret 2041, menempatkan personel tambahan dari pukul 08.00 hingga 18.00 WIB untuk memastikan arus lalu lintas dan ketertiban umum terjaga. Hal ini dilakukan demi kelancaran bagi wisatawan yang ingin mengabadikan momen unik di garis lintang nol, mempertegas posisi Kota Pontianak sebagai persimpangan budaya dan geografi yang wajib dikunjungi.