Kalimantan Barat menyimpan sebuah keajaiban alam yang sering dijuluki “Venezia-nya Kalimantan” karena keunikan lanskapnya: Danau Sentarum. Pesona Danau Sentarum yang fluktuatif ini menawarkan pengalaman tak terlupakan, dengan kehidupan lokal masyarakat Dayak yang sangat tergantung padanya. Pesona Danau ini bukan hanya tentang keindahan alamnya, tetapi juga ekosistem unik dan budaya masyarakat yang telah beradaptasi. Mari kita menjelajahi keunikan dan pesona Danau Sentarum yang memukau.
Danau Sentarum adalah sebuah danau dataran banjir (floodplain lake) raksasa yang terletak di Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Keunikannya terletak pada siklus airnya. Selama musim hujan (sekitar bulan November hingga April), air sungai Melawi dan Lebang akan meluap, mengisi danau hingga kedalaman 6-14 meter. Saat musim kemarau (sekitar Mei hingga Oktober), air danau akan surut drastis, menyisakan hamparan luas lahan gambut, rawa, dan sungai-sungai kecil yang berkelok-kelok. Fenomena pasang surut ini menciptakan ekosistem yang sangat dinamis dan kaya keanekaragaman hayati, menjadikannya sebagai Taman Nasional Danau Sentarum.
Kehidupan masyarakat lokal, terutama suku Dayak Iban dan Kantuk, sangat erat terikat dengan siklus air danau. Saat air pasang, mereka hidup di rumah-rumah panggung yang dibangun di atas air atau di pinggir danau. Perahu menjadi alat transportasi utama untuk beraktivitas, mulai dari mencari ikan, pergi ke sekolah, hingga berinteraksi dengan desa lain. Uniknya, saat air surut, masyarakat bisa berjalan kaki di bekas dasar danau yang mengering, mencari ikan yang terperangkap di genangan sisa air. Gaya hidup ini memberikan pengalaman budaya yang otentik bagi wisatawan yang berkunjung. Menurut catatan dari Pusat Informasi Wisata Kapuas Hulu pada 20 Juli 2025, banyak wisatawan tertarik untuk merasakan sensasi tinggal di homestay terapung milik warga lokal.
Flora dan fauna di Danau Sentarum juga merupakan bagian dari pesona Danau ini. Danau ini adalah habitat penting bagi berbagai spesies ikan air tawar, termasuk arowana dan ikan siluk, serta berbagai jenis burung air. Hutan rawa gambut di sekeliling danau juga menjadi rumah bagi orangutan, bekantan, dan macan dahan, meskipun pengamatan langsung membutuhkan kesabaran dan panduan lokal. Keanekaragaman hayati ini menjadikan Danau Sentarum sebagai laboratorium alam dan destinasi ekowisata yang ideal bagi peneliti dan pecinta alam.
Untuk menjelajahi pesona Danau Sentarum, wisatawan biasanya menyewa perahu motor atau perahu tradisional milik warga. Anda bisa menyusuri sungai-sungai kecil yang tenang, mengunjungi desa-desa terapung, atau bahkan mencoba memancing bersama penduduk lokal. Saat musim kemarau, pengalaman berjalan di dasar danau yang mengering adalah hal yang tak biasa. Pemandangan matahari terbit atau terbenam di atas hamparan air atau lahan gambut yang luas juga merupakan momen yang sangat indah. Pemerintah daerah dan pihak Taman Nasional terus berupaya menjaga kelestarian ekosistem Danau Sentarum sambil mengembangkan potensi ekowisata secara berkelanjutan, memastikan bahwa keunikan alam dan budaya ini dapat terus dinikmati oleh generasi mendatang.