Seringkali kita bingung membedakan antara tupai dan bajing. Sekilas tampak sama, namun ternyata ada perbedaan mendasar di antara keduanya. Penjelasan Ahli IPB kini hadir untuk mengurai kerumitan ini. Dengan panduan sederhana, Anda bisa dengan mudah mengenali ciri khas sejati tupai dan bajing.
Menurut Penjelasan Ahli IPB dari Fakultas Kehutanan, perbedaan paling mencolok terletak pada habitat dan perilakunya. Tupai adalah satwa arboreal sejati, yang berarti hidupnya hampir seluruhnya di atas pohon. Mereka sangat lincah melompat dari satu dahan ke dahan lain dengan cepat.
Sebaliknya, bajing lebih banyak menghabiskan waktunya di tanah. Meskipun bisa memanjat pohon, aktivitas utamanya mencari makan dan bersarang ada di permukaan tanah. Perbedaan habitat ini mempengaruhi bentuk fisik dan gerak-gerik kedua hewan pengerat ini secara signifikan.
Ciri fisik juga menjadi pembeda penting dalam Penjelasan Ahli IPB. Tupai umumnya memiliki tubuh yang lebih ramping dan ekor yang panjang serta pipih. Ekor ini berfungsi sebagai penyeimbang saat melompat. Warna bulunya cenderung lebih cerah, seringkali dengan garis-garis di punggung.
Bajing memiliki tubuh yang lebih gempal dan kekar. Ekornya cenderung lebih lebat dan berbentuk silindris. Ekori ini digunakan sebagai selimut atau untuk menutupi saat tidur. Warna bulu bajing biasanya lebih gelap dan seragam tanpa pola garis yang mencolok.
Perbedaan pola makan juga membedakan keduanya, menurut Penjelasan Ahli IPB. Tupai lebih suka mengonsumsi buah-buahan, biji-bijian, dan serangga. Mereka sering terlihat membawa makanan dengan kedua tangan mungilnya. Kebiasaan makan ini selaras dengan kehidupan mereka di pepohonan.
Bajing, di sisi lain, dikenal sebagai pemakan segala (omnivora). Mereka menyukai kacang-kacangan, jamur, telur burung, dan bahkan bangkai serangga. Kemampuan mereka mencari makan di tanah sangat efektif. Mereka sering mengubur cadangan makanan untuk musim paceklik.
Secara perilaku, tupai cenderung lebih individual. Mereka aktif di siang hari dan jarang terlihat berkelompok besar. Suara mereka berupa kicauan atau pekikan nyaring. Ini adalah cara mereka berkomunikasi satu sama lain di antara rimbunnya dedaunan.