Mitridatisme adalah praktik kuno yang sangat berisiko. Secara harfiah, ini adalah upaya untuk membuat tubuh kebal terhadap racun dengan mengonsumsi dosis kecil dan bertahap. Sejarah mencatat Raja Mithridates VI dari Pontus sebagai orang yang pertama kali mempopulerkan metode ini, menjadikannya nama Mitridatisme. Meskipun terdengar menarik, metode ini menyimpan bahaya yang amat besar bagi siapa pun yang mencoba.
Praktik ini bekerja berdasarkan prinsip stimulasi imunologis. Dosis racun yang sangat kecil akan merangsang sistem kekebalan tubuh untuk memproduksi antibodi. Secara teori, antibodi ini akan menetralkan racun jika terpapar dalam dosis yang lebih besar di kemudian hari. Namun, menentukan dosis yang tepat dan aman adalah hal yang hampir mustahil untuk dilakukan sendiri.
Melakukan Mitridatisme dengan racun ular berbisa sangatlah berbahaya. Racun ular bukan hanya satu jenis zat, melainkan campuran kompleks dari berbagai protein dan enzim. Masing-masing racun ini memiliki efek berbeda pada tubuh, mulai dari merusak jaringan, melumpuhkan saraf, hingga mengganggu pembekuan darah. Tidak ada satu pun cara yang bisa menjamin tubuh akan kebal terhadap semua jenis racun.
Banyak kasus di mana praktisi Mitridatisme mengalami keracunan serius. Dosis yang sedikit lebih besar dari yang seharusnya dapat menyebabkan anafilaksis atau bahkan kematian. Sistem kekebalan tubuh setiap orang berbeda, sehingga reaksi yang terjadi pun tidak dapat diprediksi. Praktik ini lebih menyerupai perjudian dengan nyawa sendiri daripada metode ilmiah yang aman.
Para ilmuwan dan dokter sangat tidak menganjurkan praktik berbahaya ini. Mereka sepakat bahwa risiko yang ditimbulkan jauh lebih besar dari manfaat yang mungkin didapatkan. Bahkan, upaya untuk menghasilkan antibodi melalui metode ini telah digantikan oleh sains modern. Produksi antivenom saat ini dilakukan dengan metode yang jauh lebih aman dan terkontrol.
Antivenom, atau serum antibisa, diproduksi dengan cara yang mirip tetapi sangat terkontrol dan aman. Racun disuntikkan dalam dosis kecil pada hewan seperti kuda atau domba. Hewan-hewan ini kemudian menghasilkan antibodi dalam jumlah besar. Antibodi ini diekstrak, dimurnikan, dan siap digunakan untuk menyelamatkan nyawa manusia.