Kasus kematian seorang wanita muda berinisial SM (23) asal Pontianak menyisakan duka mendalam dan Misteri Kematian yang belum terpecahkan sepenuhnya. Dugaan kuat mengarah pada keterlibatan tunangannya sendiri, yang merupakan seorang oknum Tentara Nasional Indonesia (TNI). Keluarga korban kini secara gencar mendesak Polisi Militer Kodam (Pomdam) Tanjungpura untuk mengusut tuntas Misteri Kematian ini demi keadilan.
Jasad SM ditemukan di wilayah Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, setelah beberapa waktu menghilang. Penemuan ini segera memicu penyelidikan mendalam oleh pihak berwenang. Berdasarkan informasi yang berkembang, dugaan kuat mengarah pada Prada Y, tunangan korban, yang merupakan anggota TNI. Namun, meskipun ada pengakuan awal dari terduga pelaku, keluarga korban merasa kecewa dengan kurangnya informasi yang diberikan oleh Pomdam dan Kodam Tanjungpura terkait perkembangan kasus.
Keluarga SM menuntut transparansi dan percepatan proses hukum. Mereka merasa ada kejanggalan dalam penanganan kasus, terutama terkait status Prada Y yang belum secara resmi ditetapkan sebagai tersangka, meskipun pengakuan telah ada. “Kami hanya ingin keadilan bagi putri kami. Kami mendesak Pomdam untuk lebih terbuka dan segera menetapkan tersangka agar Misteri Kematian ini terang benderang,” ujar Bapak M. Harun (55 tahun), ayah korban, dalam sebuah konferensi pers virtual pada hari Kamis, 20 Juni 2024, yang dihadiri oleh perwakilan media dan aktivis hak asasi manusia.
Pomdam Tanjungpura sendiri menyatakan bahwa mereka masih menunggu hasil uji DNA untuk memperkuat bukti. Proses ini, meskipun penting untuk validasi ilmiah, menimbulkan keresahan bagi keluarga yang ingin segera melihat kejelasan dan penegakan hukum. Juru Bicara Pomdam Tanjungpura, Letkol Cpm. Budi Laksono, menjelaskan dalam keterangan pers pada 21 Juni 2024, “Kami bekerja sesuai prosedur. Hasil tes DNA adalah bagian krusial yang akan memperkuat bukti penyidikan kami. Kami meminta kesabaran dari keluarga dan publik.”
Kisah Misteri Kematian SM ini menjadi sorotan yang menguji integritas penegakan hukum di lingkungan militer. Keluarga korban berharap agar kasus ini ditangani dengan serius dan tidak ada intervensi yang menghambat proses keadilan. Dukungan dari berbagai pihak, termasuk Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), juga terus mengalir untuk memastikan kasus ini diusut secara profesional dan transparan hingga tuntas.