Berdiri kokoh di tepian Sungai Kapuas, Keraton Kadariah Pontianak adalah simbol kejayaan masa lampau dan cikal bakal lahirnya Kota Pontianak, Kalimantan Barat. Istana bersejarah ini merupakan kediaman resmi Sultan-Sultan Pontianak dan menjadi penanda penting dalam peta sejarah regional. Didirikan oleh Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie pada tahun 1771, Keraton Kadariah menjadi pusat pemerintahan Kesultanan Pontianak dan juga lambang kebesaran Istana Kesultanan Melayu di Borneo. Pilihan lokasi pendirian keraton yang berada tepat di pertemuan Sungai Kapuas dan Sungai Landak memiliki nilai strategis yang tinggi, baik sebagai jalur perdagangan maupun pertahanan. Keberadaan Istana Kesultanan Melayu ini menjadi magnet bagi komunitas di sekitarnya, yang kemudian secara bertahap membentuk pemukiman padat dan menjadi inti Kota Khatulistiwa.
Arsitektur Istana Kesultanan Melayu Keraton Kadariah didominasi oleh gaya tradisional Melayu yang khas, dengan sentuhan beberapa unsur Tiongkok dan Eropa. Bangunan ini terbuat dari kayu ulin (kayu besi) yang terkenal kuat dan tahan lama, berdiri di atas tiang-tiang tinggi untuk menghindari pasang surut air sungai. Keraton ini memiliki tiga bagian utama: Bangunan Depan untuk pertemuan resmi, Bangunan Tengah sebagai ruang tamu kerajaan, dan Bangunan Belakang sebagai kediaman pribadi keluarga Sultan. Warna kuning cerah dan hijau mendominasi bangunan, yang melambangkan kemuliaan dan kesuburan dalam budaya Melayu.
Di dalam keraton, pengunjung dapat menyaksikan berbagai koleksi peninggalan bersejarah yang terawat dengan baik. Koleksi tersebut meliputi berbagai pusaka kesultanan, perabot antik, meriam kuno peninggalan Jepang dan Belanda, hingga singgasana Sultan yang berlapis emas. Salah satu artefak yang paling menarik perhatian adalah salinan Al-Qur’an tulisan tangan yang diperkirakan berusia ratusan tahun. Selain itu, terdapat pula foto-foto dokumentasi keluarga Kesultanan dari berbagai generasi yang tersimpan rapi di ruang pameran. Menurut data inventaris Museum Keraton Kadariah yang terbit pada laporan bulanan Maret 2025, tercatat ada 420 item benda pusaka utama yang menjadi koleksi inti Keraton.
Penting untuk diketahui bahwa meskipun bangunan keraton dibuka untuk kunjungan publik sebagai museum, keraton ini masih aktif digunakan oleh keluarga Kesultanan untuk upacara adat dan kegiatan keagamaan. Salah satu upacara adat yang rutin digelar adalah Robok-Robok, sebuah tradisi tolak bala yang dilaksanakan pada hari Rabu terakhir di bulan Safar dalam kalender Islam, yang menandai awal musim baru dan penyucian. Untuk menjaga keamanan pusaka dan ketertiban kunjungan, pihak Keraton bekerja sama dengan unit Babinsa setempat dari Koramil 1207/BS. Sinergi ini memastikan bahwa Keraton Kadariah tetap berfungsi ganda sebagai lembaga budaya dan simbol sejarah yang hidup, yang terus memancarkan aura kejayaan Istana Kesultanan Melayu Pontianak.