Wisata

Kalimantan Barat: Uniknya Tugu Khatulistiwa Pontianak: Posisi Nol Derajat Garis Imajinasi Bumi

Kota Pontianak, ibu kota Provinsi Kalimantan Barat, menyandang predikat istimewa sebagai salah satu kota di dunia yang secara harfiah dibelah oleh garis imajiner bumi, yaitu Garis Khatulistiwa (Equator). Di kota inilah berdiri megah Tugu Khatulistiwa Pontianak, sebuah landmark yang menandai posisi nol derajat lintang Bumi. Keunikan Tugu Khatulistiwa Pontianak bukan hanya terletak pada fungsi geografisnya, tetapi juga pada fenomena alam langka yang terjadi di sekitarnya, menjadikannya destinasi wisata edukasi dan magnet bagi para penggemar geografi.

Tugu ini pertama kali didirikan pada tahun 1928 oleh seorang ahli geografi dari Belanda, yang saat itu bertugas di kawasan tersebut. Bentuk asli tugu tersebut sangat sederhana. Kemudian, tugu ini direnovasi dan diperkuat pada tahun 1938. Bentuk Tugu Khatulistiwa Pontianak yang saat ini kita lihat adalah hasil rekonstruksi pada tahun 1990 yang dibuat lebih besar dan kokoh, dengan sebuah kubah yang melindungi tugu asli di dalamnya, lengkap dengan penunjuk arah dan koordinat. Lokasi tepat Tugu Khatulistiwa Pontianak berada di Jalan Khatulistiwa, Pontianak Utara.

Fenomena alam paling menakjubkan yang terjadi di sekitar tugu ini adalah Hari Tanpa Bayangan (Equinox), yang terjadi dua kali setahun, yaitu pada tanggal 21-23 Maret dan 21-23 September. Pada momen-momen ini, matahari berada tepat di atas kepala, menyebabkan semua benda yang berdiri tegak lurus (termasuk tugu itu sendiri dan manusia) tidak memiliki bayangan. Fenomena ini menarik perhatian ribuan turis dan ilmuwan. Untuk menyambut acara puncak Tanpa Bayangan pada hari Minggu, 22 Maret 2026, Pemerintah Kota Pontianak telah mengalokasikan dana khusus untuk acara kebudayaan yang melibatkan tarian tradisional Dayak dan Melayu, yang digelar di halaman tugu.

Pengunjung yang datang tidak hanya mendapatkan informasi geografis, tetapi juga sertifikat penyeberangan Garis Khatulistiwa, yang secara simbolis menegaskan bahwa mereka pernah berdiri di belahan bumi utara dan selatan secara bersamaan. Pengamanan area tugu dilakukan secara ketat oleh petugas keamanan setempat, dengan penugasan Polisi Sektor Pontianak Utara dan Satuan Polisi Pamong Praja yang bertugas 24 jam untuk menjaga ketertiban. Keberadaan tugu ini memperkuat identitas Pontianak sebagai ‘Kota Khatulistiwa’ dan menjadi pengingat akan keajaiban geografi planet ini.