Budaya - Tradisi

Kalimantan Barat: Festival Cap Go Meh Singkawang: Perayaan Paling Meriah dan Atraksi Tatung yang Ekstrem

Kota Singkawang, Kalimantan Barat, dikenal sebagai “Kota Seribu Kelenteng” dan menjadi tuan rumah bagi Perayaan Paling Meriah tahunan di Indonesia, yaitu Festival Cap Go Meh. Perayaan ini, yang jatuh pada hari ke-15 setelah Tahun Baru Imlek, menandai penutup rangkaian kegiatan Imlek dan menjadi puncak integrasi budaya Tionghoa-Dayak yang unik di wilayah ini. Festival Cap Go Meh Singkawang menarik ribuan pengunjung dari dalam dan luar negeri, terutama karena menampilkan Atraksi Tatung yang ekstrem, sebuah ritual spiritual yang memukau sekaligus menegangkan.

Cap Go Meh: Simbol Multikulturalisme Singkawang

Festival Cap Go Meh Singkawang adalah manifestasi sempurna dari akulturasi budaya yang telah berlangsung selama berabad-abad. Perayaan ini bukan hanya milik etnis Tionghoa, melainkan juga melibatkan Suku Dayak dalam ritual dan persiapan. Sebelum festival dimulai, kelenteng-kelenteng di Singkawang dibersihkan dan dihias, dan dilakukan ritual sembahyang secara intensif. Puncak Perayaan Paling Meriah ini adalah pawai besar yang menampilkan beragam kostum, barongsai, dan naga-naga raksasa yang bergerak di sepanjang jalan utama kota.

Pawai ini berfungsi sebagai ritual pembersihan kota dari roh-roh jahat dan nasib buruk, memastikan keberuntungan untuk tahun yang baru. Seluruh persiapan festival, termasuk koordinasi keamanan oleh aparat setempat (seperti yang dilakukan oleh Polresta Singkawang pada H-3 perayaan tahun 2025), dilakukan dengan serius untuk menampung lonjakan wisatawan.

Tatung: Atraksi Spiritual dan Ketahanan Fisik

Inti dari Perayaan Paling Meriah ini adalah Atraksi Tatung. Tatung adalah sebutan lokal untuk medium atau dukun yang dirasuki roh dewa atau leluhur. Mereka dianggap memiliki kekuatan supranatural yang membuat mereka kebal terhadap rasa sakit. Selama pawai, para Tatung menunjukkan atraksi ekstrem yang melibatkan benda tajam. Mereka menusuk pipi dengan pedang panjang, berjalan di atas pedang, atau mencambuk diri tanpa mengeluarkan darah atau menunjukkan rasa sakit yang nyata.

Atraksi Tatung ini dipercaya sebagai ritual untuk mengusir roh jahat dari kota. Bagi Suku Tionghoa, Tatung adalah dewa yang merasuki raga, sementara bagi Suku Dayak, mereka dikenal sebagai Basir. Partisipasi bersama dalam ritual ini menyoroti bagaimana Festival Cap Go Meh telah menjadi simbol persatuan dan toleransi antar etnis di Kalimantan Barat. Setiap tahun, jumlah Tatung yang berpartisipasi terus bertambah, menegaskan pentingnya warisan budaya ini.

Dampak Ekonomi dan Pariwisata

Sebagai agenda wisata unggulan Kalimantan Barat, Festival Cap Go Meh memiliki dampak ekonomi yang besar. Selama masa perayaan, yang umumnya berlangsung selama satu hingga dua minggu, tingkat hunian hotel di Singkawang melonjak hingga $100\%$, seperti yang terjadi pada bulan Februari 2024. Atraksi Tatung dan semaraknya Perayaan Paling Meriah ini telah memposisikan Singkawang di peta pariwisata dunia sebagai kota yang kaya akan tradisi dan keunikan spiritual.