Realitas mengenai Anak Sekolah Menembus Hutan adalah pemandangan harian yang mengharukan sekaligus memprihatinkan. Bagi anak-anak di pedalaman Kalimantan Barat, berangkat sekolah bukan sekadar menumpang kendaraan atau berjalan di trotoar yang nyaman. Mereka harus berjalan kaki berkilo-kilometer melintasi jalur tikus di tengah hutan belantara yang lebat. Tidak jarang, mereka harus menyeberangi sungai-sungai deras tanpa jembatan yang layak, hanya bermodalkan nyali dan keinginan kuat untuk mengubah nasib keluarga melalui pendidikan.
Ada sebuah Fakta yang sering kali luput dari perhatian publik pusat, yaitu mengenai minimnya fasilitas pendukung di sekolah-sekolah perbatasan. Banyak bangunan sekolah yang kondisinya memprihatinkan dengan atap bocor dan lantai tanah. Belum lagi masalah kekurangan tenaga pengajar tetap. Sering kali, satu orang guru harus mengajar beberapa kelas sekaligus dalam satu ruangan. Kondisi ini membuat kualitas pendidikan di wilayah perbatasan tertinggal jauh dibandingkan dengan wilayah perkotaan, padahal potensi kecerdasan anak-anak pedalaman tidak kalah saing jika diberikan fasilitas yang setara.
Perjuangan mereka untuk mencapai Masa Depan yang lebih baik sering kali terhambat oleh keterbatasan ekonomi. Banyak orang tua di perbatasan yang lebih memilih anak-anaknya membantu bekerja di ladang atau perkebunan sawit daripada melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Jarak yang sangat jauh ke sekolah tingkat menengah atau atas memaksa Anak Sekolah Menembus Hutan ini untuk tinggal di asrama swadaya atau menumpang di rumah kerabat di kecamatan, yang tentu saja membutuhkan biaya tambahan yang tidak sedikit bagi keluarga petani kecil.
Selain masalah jarak, ancaman keamanan di tengah hutan juga menjadi Cerita tersendiri bagi anak-anak ini. Hewan liar hingga risiko tersesat di tengah cuaca ekstrem adalah tantangan nyata. Saat musim hujan tiba, jalur tanah yang mereka lalui berubah menjadi kubangan lumpur yang sulit dilewati. Sepatu mereka sering kali harus dilepas dan ditenteng agar tidak rusak, sementara kaki-kaki kecil mereka terus melangkah di atas tanah yang licin. Ketangguhan mental yang terbentuk di jalur hutan ini adalah modal berharga, namun seharusnya mereka tidak perlu bertaruh nyawa hanya untuk mendapatkan hak dasar berupa pendidikan.
Intervensi pemerintah melalui program pembangunan sekolah satu atap dan pemberian beasiswa bagi anak-anak perbatasan sudah mulai berjalan, namun distribusinya masih memerlukan pengawasan ketat. Diperlukan lebih banyak asrama sekolah yang dikelola secara profesional di tingkat kecamatan agar anak-anak dari desa terpencil tidak perlu lagi berjalan menembus hutan setiap hari. Akses internet untuk mendukung pembelajaran digital juga masih menjadi masalah besar di banyak titik, padahal di era modern seperti sekarang, ketertinggalan informasi adalah bentuk kemiskinan baru yang harus diperangi.