Kalimantan Barat merupakan sebuah wilayah yang memiliki karakteristik sosial yang sangat unik dengan perpaduan etnis yang sangat beragam, mulai dari suku Dayak, Melayu, hingga Tionghoa. Keberagaman ini menciptakan sebuah ekosistem kebudayaan yang sangat kaya dan berlapis. Upaya untuk melakukan dokumentasi budaya di wilayah ini bukan sekadar mengumpulkan benda-benda antik, melainkan sebuah misi untuk menyelamatkan identitas kolektif masyarakat Kalimantan Barat dari gerusan zaman. Melalui berbagai catatan sejarah, kita dapat melihat bagaimana harmonisasi antar-etnis telah terbentuk sejak ratusan tahun lalu melalui jalur perdagangan, pernikahan, dan kesepakatan adat yang terekam dalam berbagai media massa pada masanya.
Menelusuri budaya Kalbar membawa kita pada pemahaman tentang betapa pentingnya sungai sebagai urat nadi peradaban. Kapuas, sebagai sungai terpanjang di Indonesia, telah menjadi saksi bisu bagi tumbuhnya kesultanan-kesultanan Melayu dan pemukiman-pemukiman Dayak di hulu sungai. Arsip media lama, baik itu surat kabar yang terbit di Pontianak maupun catatan perjalanan para penjelajah, memberikan gambaran yang sangat visual mengenai bagaimana interaksi sosial terjadi. Fakta sejarah menunjukkan bahwa Kalimantan Barat selalu menjadi wilayah yang terbuka terhadap pengaruh luar namun tetap memiliki benteng pertahanan budaya yang sangat kuat melalui hukum adat yang dijunjung tinggi oleh setiap lapisan masyarakatnya.
Langkah untuk menelusuri akar sejarah melalui media massa memberikan kita keuntungan berupa data primer yang bersifat harian. Berita-berita mengenai perayaan gawai, perayaan imlek, hingga festival meriam karbit di tepian sungai Kapuas pada masa lampau, mendokumentasikan antusiasme publik yang sangat tinggi. Media berfungsi sebagai cermin yang memantulkan kondisi sosial saat itu. Kita bisa melihat bagaimana isu-isu mengenai agraria, kehutanan, dan hak-hak masyarakat adat mulai disuarakan melalui kolom-kolom opini di surat kabar lokal. Inilah pentingnya arsip bagi keberlangsungan narasi sejarah yang jujur dan tidak memihak, agar fakta yang sampai ke telinga generasi muda saat ini tidak terdistorsi oleh kepentingan politik tertentu.
Keberadaan arsip media di Kalimantan Barat juga mencatat transisi politik yang sangat dinamis, mulai dari masa kerajaan, pendudukan Jepang, hingga era kemerdekaan dan pembentukan provinsi. Setiap perubahan kekuasaan selalu membawa dampak pada pola ekspresi budaya. Dokumentasi yang tersimpan dalam lembaran kertas usang tersebut sering kali menyimpan detail mengenai arsitektur rumah betang atau istana kadriah yang mungkin saat ini sudah banyak mengalami renovasi. Dengan mempelajari deskripsi detail dalam berita lama, para konservator budaya dapat melakukan restorasi fisik maupun non-fisik dengan lebih akurat sesuai dengan bentuk aslinya di masa lalu.