Banjir besar kembali melanda Kabupaten Landak, Kalimantan Barat, meninggalkan dampak banjir yang meluas dan memprihatinkan. Ribuan jiwa terpaksa mengungsi setelah rumah dan akses jalan mereka terendam air bah. Untuk mengatasi situasi darurat ini, pemerintah daerah dan berbagai pihak telah mendirikan posko-posko penampungan serta dapur umum. Memahami skala dampak banjir di Landak ini sangat penting agar bantuan dapat disalurkan secara tepat sasaran. Data terbaru per Kamis, 23 Januari 2025, menunjukkan total 8.845 jiwa terdampak secara langsung oleh dampak banjir ini.
Banjir yang terjadi di Landak ini dipicu oleh curah hujan ekstrem yang berlangsung selama beberapa hari berturut-turut, menyebabkan meluapnya beberapa sungai utama di wilayah tersebut. Ketinggian air di beberapa desa mencapai lebih dari 1,5 meter, merendam rumah warga hingga atap dan memutuskan akses jalan darat. Puluhan desa di beberapa kecamatan dilaporkan terisolir.
Dampak paling signifikan terasa di Kecamatan Ngabang, Sengah Temila, dan Mandor, di mana ribuan keluarga harus dievakuasi. Banyak warga kehilangan harta benda dan mata pencaharian mereka. Petani mengalami kerugian besar karena lahan pertanian terendam, sementara aktivitas ekonomi lumpuh total. Anak-anak sekolah terpaksa berhenti belajar karena fasilitas pendidikan mereka tidak bisa digunakan. Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Landak, Bapak Agus Salim, menyatakan pada Jumat, 24 Januari 2025, bahwa situasi masih sangat dinamis dan jumlah korban terdampak kemungkinan bisa bertambah seiring pembaruan data.
Menyikapi dampak banjir yang masif ini, berbagai pihak segera bergerak cepat. Pemerintah Kabupaten Landak telah mengaktifkan Status Tanggap Darurat Bencana Banjir sejak Rabu, 22 Januari 2025. Posko-posko darurat didirikan di beberapa lokasi strategis seperti gedung serbaguna desa, sekolah, dan fasilitas umum lainnya yang aman dari genangan air. Setidaknya ada 15 posko pengungsian yang beroperasi penuh, termasuk satu posko utama di Aula Kantor Kecamatan Ngabang yang menampung sekitar 2.500 pengungsi.
Di setiap posko, dapur umum didirikan untuk memastikan kebutuhan pangan para pengungsi terpenuhi. Relawan dari berbagai organisasi, termasuk Palang Merah Indonesia (PMI) dan Tagana (Taruna Siaga Bencana), bekerja tanpa lelah menyediakan makanan siap saji, air bersih, selimut, dan pakaian layak pakai. Tim medis dari Dinas Kesehatan Kabupaten Landak juga disiagakan di setiap posko untuk memberikan layanan kesehatan, terutama penanganan penyakit kulit dan diare yang sering muncul pascabanjir. Kepolisian Resor Landak turut mengerahkan personel untuk membantu proses evakuasi dan menjaga keamanan di posko-posko pengungsian, memastikan tidak ada tindak kejahatan selama masa sulit ini. Bantuan dari pemerintah pusat dan organisasi non-pemerintah juga mulai berdatangan, menunjukkan solidaritas dalam menghadapi bencana ini.